Cara Hidup Menurut Panduan Yang Ditunjukkan Oleh Rasulullah SAW


1: Abu Hurairah r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar (minta ampun) dan bertaubat kepada Allah setiap hari, lebih daripada tujuh puluh kali.

(Bukhari)


2: Al-Agharr bin Yasar Al-Muzniy r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda, “ Hai sekalian manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan beristighfarlah (mintalah ampun) kepadaNya, maka sesungguh saya bertaubat (istighfar) setiap hari seratus kali.”

(Muslim).

Demikianlah didikan Rasulullah s.a.w. kepada kita ummat Islam yang percaya kepada ajaranNya, sebab istighfar itu bagi manusia merupakan suatu alat yang terbaik untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, sebab di situ ada pengertian pengakuan sebagai hamba yang lemah, di samping pengakuan terhadap kebesaran Allah dan kekuasaanNya yang mutlak tidak terbatas.

3: Anas bin Malik r.a. berkata, “Bersabda Rasulullah s.a.w. “ Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat seorang hambaNya, melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali dengan tiba-tiba, untanya yang telah hilang daripadanya di tengah hutan.”

(Bukhari, Muslim).

Dalam riwayat Muslim: “Sungguh Allah lebih suka menerima taubat seseorang hambaNya, melebihi dari kesenangan orang yang berkenderaan di hutan, kemudian hilang daripadanya, sedangkan kenderaan itu penuh dengan bekal makanan dan minumannya, sehingga ia patah harapan untuk mendapatkannya kembali, lalu dia duduk di bawah pohon dengan kecewa dan putus asa. Tiba-tiba ketika dia bangun dari tidurnya, kenderaannya telah ada. kembali di depannya lengkap dengan bekalannya, maka segera ia pegang kendalinya sambil berkata, “Ya Allah Engkau hambaku, dan Aku Tuhanmu.” (Terlanjur -keliru- lidahnya karena sangat gembira.)”

*** Sepatutnya dia berkata, “Ya Allah Engkau Tuhanku dan Aku hambaMu.” Tetapi tersasul lidahnya sebagaimana diatas itu.
Maka Allah lebih gembira menerima taubat seorang hambaNya melebihi kegembiraan orang yang menemukan kembali harapannya itu.

Rujukan: Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 24-26
%d bloggers like this: