Cara Hidup Menurut Panduan Yang Ditunjukkan Oleh Rasulullah SAW

Archive for November, 2008

RIADHUS SHALIHIN (1) : Taubat 5

8: Abu Said (Sa’ad bin Malik bin Sinan) Alkhudri berkata,
“Bersabda Nabi s.a.w. “Dahulu pada umat-umat yang terdahulu, terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. (kemudian dia ingin bertaubat)
Maka dicarinya seorang yang alim, lalu orang alim itu merujuk (masalahnya) kepada seorang pendeta. Si pembunuh itu mengutarakan kemusykilannya iaitu dia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah masih ada peluang untuk bertaubat?
Jawab pendeta, “Tidak ada.” Maka segera dibunuhnya pendeta itu, sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya.
Kemudian dia mencari lagi orang alim yang lain pula, ketika telah ditunjukkan kepadanya (orang alim) maka si pembunuh itu menerangkan bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah masih ada jalan untuk bertaubat?
Jawab si Alim, “Ya ada, siapakah yang boleh menghalangnya untuk bertaubat? Pergilah ke suatu tempat kerana di sana terdapat orang-orang yang taat kepada Allah, maka contohilah amalan mereka, dan jangan kembali semula ke tempat asalmu ini, kerana tempat ini tidak baik.”
Maka pergilah orang itu. Tatkala baru separuh perjalanan, tiba-tiba hamba Allah tersebut mati mengejut.
Maka bertekaklah Malaikat Rahmat dengan Malaikat Azab berkenaan jenazah itu.
Berkata Malaikat Rahmat, “dia telah berjalan untuk bertaubat kepada Allah dengan sepenuh hatinya.”
Berkata Malaikat Azab, “dia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali!”
Maka datanglah seorang Malaikat berupa manusia dan dijadikannya sebagai juri (hakim) di antara mereka.
Dia berkata, “Ukurlah jarak di antara dua tempat – yang ditinggalkan dengan yang dituju, maka ke mana yang dia lebih dekat masukkanlah dia kepada golongan orang berkenaan.”
Mereka pun mengukurnya. Hasilnya jenazah itu didapati lebih dekat dengan tempat yang baik yang ditujuinya. Maka ruhnya dipegang oleh Malaikat Rahmat.
(Buchary, Muslim)
Dalam riwayat lain (sahih) : Allah memerintahkan kepada bumi yang ditinggalkan supaya menjauh dan bumi yang dituju supaya mendekat.
Dalam riwayat lain : Diukur jarak kedua-dua tempat itu, maka mereka mendapatinya lebih dekat dengan tempat yang dituju, maka diampunkannya.
Dalam riwayat lain : Maka condong (di bahagian dadanya) ke arah tempat yang dituju.

Rujukan:
Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 29-30
Advertisements

RIADHUS SHALIHIN (1) : Taubat 4

7: Zirr bin Hubaisy berkata, “Saya datang kepada Shafwan bin ‘Assal r.a untuk bertanya tentang hal mengusap khuf (sepatu boot),
maka ia bertanya, “Mengapakah engkau datang hai Zirr?”
Jawabku, “Untuk menuntut ilmu.”
Berkata Shafwan, “Sesungguhnya Malaikat menghamparkan sayapnya kepada orang yang datang menuntut ilmu, karena menyukai dengan apa yang dipelajari.”
Maka saya bertanya, “Sebenarnya saya merasa ragu dalam hatiku tentang haji, mengusap khuf (sepatu boot) sesudah buang air, sedang kau seorang sahabat Nabi .s.a.w. Apakah kau pernah mendengar Rasulullah menyebut tentang itu?”
Jawabnya, “Benar, baginda menyuruh kami jika kami sedang dalam perjalanan atau bermusafir supaya tidak membuka khuf kami sampai tiga hari tiga malam, terkecuali jika berjanabah harus dibuka. Izin tidak membuka khuf itu hanya kerana hadas kecil; buang air kecil, buang air besar atau tidur.”
Kemudian saya bertanya, “Apakah pernah kau mendengar Rasulullah menyebut tentang hal cinta?”
Jawabnya, “Ya, ketika kami dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah s.a.w. tiba-tiba seorang Badwi memanggil Rasulullah s.a.w. dengan suara yang keras. “Ya Muhammad.”
Dijawab oleh Nabi hampir menyamai suaranya, (nada suara orang yang kehairanan / tercengang / gila)
Maka saya peringatkan Badwi itu. “Rendahkan sedikit suaramu di depan Rasulullah s.a.w. kerana kelakuan sebegitu dilarang.”
Jawab Badwi, “Demi Allah, saya tidak akan merendahkan suara saya!”
Kemudian dia bertanya, “Bagaimana seorang yang kasih kepada sesuatu kaum, tetapi tidak dapat berkumpul dengan mereka?”
Jawab Nabi s.a.w. “Seseorang itu akan berkumpul dengan sesiapa yang dikasihinya pada hari kiamat.”
Safwan meneruskan ceritanya, “Kemudian Rasulullah s.a.w. selalu bercerita kepada kami, sehingga baginda menyebut tentang sebuah pintu gerbang di sebelah barat, yang lebarnya sepanjang perjalanan 40 atau 70 tahun.”
Sufyan iaitu salah seorang perawi menyatakan, “(Pintu gerbang itu) terletak di bahagian Syam, telah dijadikan oleh Allah sejak dijadikanNya langit dan bumi, ia terbuka untuk menerima taubat dan tidak akan tertutup sehinggalah matahari terbit daripadanya.”
(Attirmizi, Hadith Hasan Sahih)
7. Zirr bin Hubaish reported: I went to Safwan bin ‘Assal (May Allah be pleased with him) to inquire about wiping with wet hands over light boots while performing Wudu’. He asked me, “What brings you here, Zirr?” I answered: “Search for knowledge”. He said, “Angels spread their wings for the seeker of knowledge out of joy for what he seeks”. I told him, “I have some doubts in my mind regarding wiping of wet hands over light boots in the course of performing Wudu’ after defecation or urinating. Now since you are one of the Companions of the Prophet (PBUH), I have come to ask you whether you heard any saying of the Prophet (PBUH) concerning it?”. He replied in the affirmative and said, “He (PBUH) instructed us that during a journey we need not take off our light boots for washing the feet up to three days and nights, except in case of major impurity (after sexual intercourse). In other cases such as sleeping, relieving oneself or urinating, the wiping of wet hands over light boots will suffice.” I, then, questioned him, “Did you hear him say anything about love and affection?” He replied, “We accompanied the Messenger of Allah (PBUH) in a journey when a bedouin called out in a loud voice, ‘O Muhammad.’ The Messenger of Allah (PBUH) replied him in the same tone, ‘Here I am.’ I said to him (the bedouin), ‘Woe to you, lower your voice in his presence, because you are not allowed to do so.’ He said, ‘By Allah! I will not lower my voice,’ and then addressing the Prophet (PBUH) he said, ‘What about a person who loves people but has not found himself in their company.’ Messenger of Allah (PBUH) replied, ‘On the Day of Resurrection, a person will be in the company of those whom he loves.’ The Messenger of Allah then kept on talking to us and in the course of his talk, he mentioned a gateway in the heaven, the width of which could be crossed by a rider in forty or seventy years”.Sufyan, one of the narrators of this tradition, said: “This gateway is in the direction of Syria. Allah created it on the day He created the heavens and the earth. It is open for repentance and will not be shut until the sun rises from that direction (i.e., the West) (on Doomsday)”.[At-Tirmidhi, who categorised it as Hadith Hasan Sahih]Commentary:1. We learn from this Hadith that in ablution, it is permissible to wipe over light boots rather than washing the feet. It is called Mash. The period, in which Mash is intact, in case of travellers it is three days and three nights; while for the residents, it is one day and one night only. A precondition for it is that light boots should be clean and worn after full Wudu’. Ankles should also be covered. In case of breach of ablution, the wiping over the socks is sufficient, and there is no need for washing the feet. Wudu’ is invalidated by sleeping, call of nature and passing of wind. This is called Hadath Asghar. In the case of Hadath Akbar, which occurs because of coitus, menses and wet dream, washing of the whole body becomes obligatory. It means that the privilege of wiping over the light boots is also finished in this case, in the same way as it does after the expiry of period specified for it.2. One should associate himself with the pious people so that he is counted among them. One also comes to know many other points from this Hadith which every intelligent person can understand with a little effort.
Rujukan:
Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 27-29

RIADHUS SHALIHIN (1) : Taubat 3

4: Abu Musa Al-Asy’ary r.a. berkata, “Bersabda Nabi s.a.w. “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan rahmatNya pada waktu malam supaya bertaubat orang yang telah melakukan maksiat pada siang hari, juga mengulurkan tangan kemurahanNya pada waktu siang, supaya bertaubat orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan itu tetap berlangsung hingga matahari terbit dari arah Barat.”
(Muslim)
5: Abu Hurairah r.a. berkata, “Bersabda Rasulullah s.a.w. “Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah menerima taubatnya.”
(Muslim)

6: Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Bersahda Nabi s.a.w. “Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seseorang hambaNya selama ruh (nyawanya) belum sampai di tenggorokan (hampir mati)
(At-Tirmizi – hadith bertaraf ‘hasan’)

Rujukan:
Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 26-27

RIADHUS SHALIHIN (1) : Taubat 2


1: Abu Hurairah r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar (minta ampun) dan bertaubat kepada Allah setiap hari, lebih daripada tujuh puluh kali.

(Bukhari)


2: Al-Agharr bin Yasar Al-Muzniy r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda, “ Hai sekalian manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan beristighfarlah (mintalah ampun) kepadaNya, maka sesungguh saya bertaubat (istighfar) setiap hari seratus kali.”

(Muslim).

Demikianlah didikan Rasulullah s.a.w. kepada kita ummat Islam yang percaya kepada ajaranNya, sebab istighfar itu bagi manusia merupakan suatu alat yang terbaik untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, sebab di situ ada pengertian pengakuan sebagai hamba yang lemah, di samping pengakuan terhadap kebesaran Allah dan kekuasaanNya yang mutlak tidak terbatas.

3: Anas bin Malik r.a. berkata, “Bersabda Rasulullah s.a.w. “ Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat seorang hambaNya, melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali dengan tiba-tiba, untanya yang telah hilang daripadanya di tengah hutan.”

(Bukhari, Muslim).

Dalam riwayat Muslim: “Sungguh Allah lebih suka menerima taubat seseorang hambaNya, melebihi dari kesenangan orang yang berkenderaan di hutan, kemudian hilang daripadanya, sedangkan kenderaan itu penuh dengan bekal makanan dan minumannya, sehingga ia patah harapan untuk mendapatkannya kembali, lalu dia duduk di bawah pohon dengan kecewa dan putus asa. Tiba-tiba ketika dia bangun dari tidurnya, kenderaannya telah ada. kembali di depannya lengkap dengan bekalannya, maka segera ia pegang kendalinya sambil berkata, “Ya Allah Engkau hambaku, dan Aku Tuhanmu.” (Terlanjur -keliru- lidahnya karena sangat gembira.)”

*** Sepatutnya dia berkata, “Ya Allah Engkau Tuhanku dan Aku hambaMu.” Tetapi tersasul lidahnya sebagaimana diatas itu.
Maka Allah lebih gembira menerima taubat seorang hambaNya melebihi kegembiraan orang yang menemukan kembali harapannya itu.

Rujukan: Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 24-26

RIADHUS SHALIHIN (1) : Taubat

TAUBAT

Taubat itu hukumnya WAJIB DARI SETIAP DOSA. Maka jika maksiat (dosa) itu hanya antara seseorang dengan Allah, tiada berhubungan dengan hak manusia, ada tiga syarat taubat:

1. Harus menghentikan maksiat.
2. Harus menyesal atas perbuatan yang telah terlanjur dilakukannya.
3. Niat bersungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan itu kembali.

Sekiranya dosa itu ada hubungan dengan hak manusia maka taubatnya ditambah syarat keempat iaitu:

4. Menyelesaikan urusannya dengan orang yang berhak dengan:
i. minta maaf atau
ii. halalnya atau
iii. mengembalikan apa yang harus dikembalikannya.

Firman Allah:

وَتـُوبـُوٓاْ إ ِلـَى ٱلـلـَّهِ جَمِيعًا أ َيُّـهَ ٱلـْمُؤمِنـُونَ

لـَعـَلـَّكُمْ تـُفـْـلِحُـونَ – ٣١

Bertaubatlah kamu kepada Allah hai orang-orang yang beriman,supaya kamu untung (bahagia).

(An-Nur – surah ke-24: ayat ke-31)

Firman Allah:

وَأ َن ِ ٱسْــتــَغــْـفِـرُواْ رَبـَّــكُمْ ثـُــمَّ تـُــوبـُــوٓاْ إ ِلـَــيْـهِ

Mintalah ampun kepada Tuhanmu dengan membaca istighfar, dan kembali bertaubatlah kepadaNya.

(Hud – surah ke-11: ayat ke-3)

Firman Allah:

يـَـٰٓــأ َيـُّــہَا ٱلـَّــذِيـنَ ءَامَنـُــواْ تـُــوبـُــوٓاْ إ ِلـَــى

ٱللـَّــهِ تـَــوْ بـَــة ً نـَّــصُوحًا

Hai sekalian orang yang beriman, taubatlah kamu kepadaAllah dengan sungguh-sungguh.
(At-Tahrim surah ke-66: ayat ke-8)

Rujukan:1. Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 23-24
2. http://www.quranexplorer.com/quran/

MIMPI : Tentang Makkah

* Mimpi melihat kota Makkah, bererti akan menziarahi Ka’bah.

* Mimpi pergi menuju Makkah untuk urusan perdagangan, bukan untuk menziarah ke sana, bererti amat berminat sekali dengan kesenangan diniawi, atau bererti bertambah rezeki dan kenikmatannya.

* Mimpi berada di jalan kota Makkah, bererti Allah S.W.T. memberi rezeki menunaikan haji.

* Mimpi berada di kota Makkah, tetapi dia sibuk dengan soal-soal ibadah serta tidak mempedulikan urusan-urusan duniawi, bererti memperoleh manfaat dalam urusan duniawi atau akhirat.

* Mimpi berada di kota Makkah, tetapi dia sibuk dengan kejahatan-kejahatan dan perbuatan yang buruk, bererti dia memperolehi sesuatu yang kurang menyenangkan.

* Menurut Ismail-As’as, mimpi melihat kota Makkah dalam keadaan makmur, banyak kenikmatan, bererti memperolehi kebaikan dan mendapat harta.

* Ada pendapat mengatakan bahawa sesiapa yang bermimpi berada di jalan kota Makkah, maka apabila dia sakit, bererti akan sembuh. Kadang-kala bererti sudah dekat ajalnya, isyaAllah.

* Mimpi berada di Tanah Haram kota Makkah, bererti aman dari segala keburukan dunia. Firman Allah S.W.T. dalam Surah al-Ankabut 29:67 :
Bermaksud:”Apakah mereka tidak melihat bahawa sesungguhnya Kami menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia saling tangkap-menangkap di sekeliling mereka (berperang).”
Atau boleh juga bermaksud menunaikan haji.

* Mimpi melihat di Tanah Haram ada seorang raja yang adil, bererti kebaikannya terkenal, perbuatannya juga baik. Jika orang bermimpi ialah orang yang tidak baik, maka takwilnya juga tidak baik.

* Mimpi melihat Ka’bah, bererti melihat penguasa atau pegawai tinggi.

* Mimpi rumahnya menjadi Ka’bah, kemudian ramai orang-orang berziarah ke situ, bererti dia memegang kekuasaan tentang keperluan orang ramai, atau menjadi imam satu jemaah, atau dikurniai suatu kebaikan atau kenikmatan.

* Menurut Abdullah al-Karmani, mimpi melihat Ka’abah, bererti selamat, iman dan Islam. Jika yang bermimpi ialah orang sakit, bererti sembuh dan dikabulkan doanya.

* Mimpi wajahnya diusap dengan hajar aswad dan menciumnya, bererti bersahabat dengan para ahli ilmu dan memperolehi ilmu serta pelbagai faedah daripada mereka.

* Mimpi berada di makam Ibrahim, bererti pergi haji dan pulang dengan selamat.

* Mimpi melihat Kaabah tanpa diiringi ibadah haji atau amalpamal yang lain, bererti dia melecehkan agamanya.

* Mimpi tawaf mengelilingi Kaabah, dengan mengamalkan sesuatu daripada ibadah haji, bererti baik dalam ibadah dan urusan duniawinya, sesuai dengan banyaknya amal yang dia kerjakan.

* Mimpi menuju ke Kaabah, bererti tekun kepada kebaikan-kebaikan ibadahnya dan duniawinya, atau mengabdi diri kepada penguasa.

* Mimpi ibadah hajinya kekurangan amal-amal sunat, bererti terjadi sesuatu di dalam agamanya.

* Mimpi Kaabah berada di dalam rumahnya, bererti mempunyai kemuliaan, kebesaran dan kehormatan. Atau mengahwini seorang perempuan yang tinggi martabatnya, yang baik dan jujur.

* Mimpi melihat Kaabah dan melihat kekurangannya, maka takwilnya kembali kepada penguasa atan pegawai di situ.

* Mimpi memasuki Masjidil Haram, bererti selamat. Firman Allah S .W.T. dalam Surah Ali Imran 3:97
Bermaksud: Barang siapa memasuki Masjidil Haram, bererti selamat.”

* Menurut Ja’afar al-Sadiq, mimpi melihat Kaabah bererti khalifah, imam besar, serta selamat bagi orang mukmin.

* Mimpi berada di Safa, bererti bersih kehidupannya.

* Mimpi mengerjakan saie bererti berbuat kebaikan.

* Mimpi wukuf di Arafah, bererti menebus dosanya dan mendapat keampunan Allah S.W.T.

* Mimpi berada di Mina, bererti sampai kepada tujuan. Jika sakit bererti sembuh. Disebutkan juga bererti lepas daripada dosa atau mendapat kesembuhan. Disebutkan dalam sebuah syair Arab, yang bermaksud:

“Hai orang-orang yang pagi-pagi pergi ke Hijaz dan La’la’, naiklah ke lembah Mina dan lembah Ajra’ dan tanah yang tidak menyesal bagi yang menuruninya. Di lembah Mina ada semacam ubat bagi semua hati yang sakit.”

* Mimpi berada di tempat-tempat tersebut di atas, bererti mendapat kebaikan.

* Mimpi mengerjakan ihram, bererti menyendiri dalam mengerjakan ibadah atau keluar daripada berbuat dosa.

* Mimpi mengerjakan ibadah haji, bererti baik pada umumnya.

* Mimpi mengerjakan ibadah haji dan kembali daripada haji, bererti tercapai cita-citanya.

* Mimpi berada di dalam suatu rombongan, bererti mendapat rahmat daripada Allah S.W.T. Sabda Rasulullah s.a.w.bermaksud:

“Berjamaah itu adalah merupakan rahmat.”

* Mimpi berhenti di tempat perhentian bersama-sama rombongan, bererti mendapat ketenangan dan ketenteraman.

* Mimpi bersama-sama dalam satu rombongan tetapi ketinggalan, bererti peringatan, keinginan atau menangis.

* Mimpi berada dalam suatu rombongan kemudian mencari sesuatu tetapi tidak berhasil, bererti tidak baik.

* Kadang-kala mimpi melihat suatu tempat atau suatu kota boleh ditakwil dengan maksud yang terkandung dalam nama tempat atau kota tersebut, umpamanya Mina bererti harapan.

Rujukan: Muhammad Ibnu Sirin (Terjemahan: Abdul Hamid & Azman Ayob). 2004. ENSIKLOPEDIA TAFSIR MIMPI MENURUT TRADISI ISLAM. Kuala Lumpur: Crescent News (KL) Sdn. Bhd. m.s 531-535.
http://www.crescentbook.com/crescentbook/index.html

VIDEO : Tsunami 2004 Memorial Video

%d bloggers like this: